Instalasi Farmasi

Farmasi

Pelayanan farmasi rumah sakit adalah bagian yang tidak terpisahkan dari sistem pelayanan kesehatan rumah sakit yang utuh yang berorientasi kepada kepentingan pasien, penyediaan obat yang bermutu, termasuk pelayanan farmasi klinik yang terjangkau bagi semua lapisan masyarakat. Semakin tingginya kesadaran masyarakat akan pentingnya kesehatan membawa konsekuensi terhadap semakin bertambahnya tuntutan masyarakat akan pelayanan kesehatan yang tepat, cepat, aman dan bermutu bagi semua lapisan masyarakat.Untuk menjawab tantangan tersebut maka RSUD dr R Sotrasno telah melaksanakan program standarisasi yaitu ISO 9001 : 2008 dimana Instalasi Farmasi merupakan salah satu bagian yang harus menerapkan ISO 9001 : 2008.

Dalam upaya menerapkan program sertifikasi ISO 9001 : 2008 Instalasi Farmasi mempunyai sasaran mutu yang harus dicapai, yaitu sebagai berikut:

  • Waktu tunggu pelayanan resep non racikan maksimal 1 jam
  • Waktu tunggu pelayanan resep racikan maksimal 2 jam
  • Ketepatan pemberian obat berdasarkan permintaan ruangan
  • Kepuasan pelanggan

Untuk sasaran mutu waktu tunggu pelayanan resep racikan dan non racikan sangat berhuhungan erat dengan prosedur mutu yang diterapkan di program ISO 9001 :2001. Adapun prosedur mutu Instalasi Farmasi adalah sebagai berikut : 

  1. Menerima resep yang dibawa oleh pasien atau perawat dari ruangan. Resep diterima oleh asisten apoteker yang kemudian diberikan nomor urut.
  2. Asisten Apoteker kemudian melakukan pemeriksaan kelengkapan resep yang meliputi tanggal penulisan resep, identitas pasien, nomor rekam medis, cara pembayaran, ruangan atau bangsal, kelas perawatan, diagnosa klinis, tanda tangan dokter pemeriksa, item obat, aturan pakai, dosis pemakaian. 
  3. Setelah lengkap, Apoteker kemudian melakukan skrining terhadap resep yang meliputi kesesuain dosis, DRP, memeriksa aturan pakai obat. 
  4. Asisten Apoteker melakukan pengentrian resep untuk mengurangi stok barang dan memberi harga obat. 
  5. setelah pasien setuju dengan harga resep dilakukan dispensing obat meliputi pengambilan obat, meracik obat, memberi etiket dan memasukkan obat kedalam wadah/plastik. 
  6. Asisten Apoteker/Apoteker melakukan pemeriksaan akhir terhadap resep dan obat yang telah disiapkan meliputi kesesuaian obat dengan resep, jumlah dan aturan pakai. 
  7. Apoteker/Asisten Apoteker menyerahkan obat kepada keluarga pasien / perawat disertai dengan pemberian informasi tentang obat yang diperoleh. 

Untuk sasaran mutu ketepatan pemberian obat berdasar permintaan ruangan perawat ruangan membawa blangko permintaan sesuai kebutuhan ruangan dibawa ke Instalasi Farmasi kemudian Asisten Apoteker mengambil obat sesuai blangko permintaan dan dicocokkan jumlah dan jenisnya bersama dengan perawat ruangan, hal ini dilakukan agar terjadi crosscheck antara petugas apotek denga perawat ruangan.

Untuk mengetahui tingkat kepuasan pelanggan terhadap pelayanan yang dilakukan oleh Instalasi Farmasi dilakukan survey terhadap pasien yang dilakukan tiap 6 bulan sekali sebagai evaluasi terhadap kinerja Instalasi Farmasi.

Untuk kedepan Instalasi Farmasi berencana untuk melakukan program yang disebut dengan KONSELING OBAT yang mana pasien dapat berkomunikasi langsung dengan Apoteker agar pasien dapat dengan jelas mengetahui semua informasi tentang obat yang diperolehnya.Dengan adanya program tersebut diharapkan Instalasi Farmasi dapat memberikan pelayanan yang lebih baik dan lebih profesional sehingga dapat menambah nilai positif bagi Rumah Sakit.